Tampilkan postingan dengan label Left Philoshopy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Left Philoshopy. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

On The Fear of Expectation

         Tidak ada satu pun,anak yang lahir dari rahim seorang perempuan meminta untuk lahir,tidak ada satu pun anak yang dapat memilih lingkungan seperti apa yang kelak akan menemani hidupnya,tidak ada satu pun anak yang kelak akan menjadi manusia dapat memlih terlahir sebagai seorang muslim, kristen, yahudi, hindu,jawa, batak, negro,melayu maupun seorang yang terlahir dalam sebuah keluarga dan lingkungan primitif.
          Pada dasarnya seorang anak hanyalah seorang yang tidak tahu apa-apa terhadap ekpektasi yang diinginkan orang tua kelak ketika dewasa.Dunia yang menuntut setiap manusia agar segalanya harus sempurna adalah sebuah hantu yang selalu membuat setiap manusia tidak dapat merasakan betapa indahnya panorama langit senja di setiap sudut sore belahan bumi.
          Keturunan Adam yang tanpa perasaan menumpahkan air kehidupan ke dalam telaga Hawa sesungguhnya adalah suatu bencana kemanusiaan dalam sejarah hidupnya sendiri. Betapa mudahnya keturunan Adam dan Hawa bersenang-senang lalu meninggalkan tanggung jawab atas nafsu kilat mereka adalah bukti betapa mengerikannya sisi gelap setiap manusia.
          Tuhan tidak akan pernah berbicara langsung terus terang kepada manusia,Tuhan seakan meninggalkan manusia dan hanya meninggalkan kalimat-kalimat dialogNya kepada segilintir manusia di Dunia.Kumpulan kalimat yang pada akhirnya terangkum menjadi sebuah buku yang merupakan kitab suci.Namun manusia tetaplah manusia, manusia pada akhirnya lah pula yang merusak indahnya kalimat suci Tuhan.  Bukankah manusia itu sendiri yang selalu menghiasi isi kitab suci melalui tumpahan darah,tindakan keji,dan pada akhirnya satu per satu manusia mulai berpaling dari kitab suci.
         










On The Delusion of God’s Light

            Dalam tulisan ini saya akan mencantumkan beberapa budaya-budaya dan fenomena sosial yang ditimbulkan oleh sosok Tuhan teutama yang selama ini terjadi lingkungan hidup yang saya alami.Pertama saya akan mengeluarkan semua hal yang ada di dalam pikiran saya selama saya hidup selama delapan belas tahun ini,dimulai ketika saya dilahirkan tahun 1996 sampai pada tahun ini 2015.
Baiklah,saya adalah anak pertama dari dua bersaudara.Kebetulan saya dilahirkan di keluarga muslim yang bisa dibilang taat,sejak kecil saya diajarkan berbagai cara hidup atas dasar perintah Islam.Hampir setiap sore ketika saya mulai memasuki umur lima tahun selalu mengikuti acara rutin TPA (Tempat Pendidikan Al-Quran).Keingintahuan saya mengenai hal-hal yang baru sangat kuat sekali.Bahkan saya masih ingat ketika memasuki sekolah dasar di kelas satu waktu pelajaran pendidikan agama Islam,dengan penuh keheranan ketiks guru menjelaskan sosok Tuhan saya langsung bertanya,”Bu,Tuhan itu seperti apa,ada di mana?” sontak guru pun menjelaskan sosok Tuhan yang berbeda dari ciptaanya,tinggal di atas arsy,katanya.
Memasuki SMP saya masihlah seorang yang dapat di bilang rajin sembahyang kepada Tuhan,hampir setiap terdengar suara adzan,saya langsung pergi ke Masjid.Masa-masa SMP adalah masa dimana saya merasakan bahwa saya begitu spesial karena selalu rajin beribadah, masa dimana saya menganggap muslim adalah yang terbaik, hanya muslim yang masuk surga, masa dimana saya mempercayai sosok Tuhan seperti apa yang selalu di munculkan di dalam otak saya, dengan penuh keyakinan saya selalu menantikan adzan panggilan untuk shalat.
Lalu masa-masa seperti itu perlahan mulai kabur seiring saya mulai mengenal berbagai budaya di dunia,berbagai agama,berbagai pandangan filosofi manusia hebat di eropa,arab,asia,dan sejarah Tuhan selama kemunculan awal manusia sampai abad milenium.Masa ini adalah ketika saya mulai memasuki kehidupan SMA di mulai dengan ketertarikan terhadap komunisme,atheisme,dan filsafat akhirnya mengantarkan saya pada pandangan bahwa Tuhan itu ada namun tidak dapat dijangkau manusia.Dimulai dengan pola pikir saya bahwa jika Tuhan seorang muslim itu adalah yang paling benar maka bagaimana dengan nasib non-muslim,apakah Tuhan akan dengan mudahnya melemparkan mereka ke dalam neraka,bagaimana jika non-muslim tersebut secara kebetulan lahir di Bali beragama Hindu namun memiliki etika moral,seorang humanist,dan bahkan seorang donatur kemanusiaan yang baik,apakah juga akan dilemparkan ke neraka hanya karena dia adalah non-muslim.

Dijelaskan Tuhan dalam versi Islam dan Samawi adalah Maha atas Segalanya,bahkan dikatakan bahwa Tuhan telah menuliskan takdir yang manusia jauh hari sebelum manusia memiliki ruh.Lalu jika benar bahwa Tuhan telah menuliskan semua takdir manusia jadi bukanlah kesalahan manusia jika kelak manusia tidak mengenal Tuhanya dan secara kebetulan terlahir sebagai non-muslim.
Agama yang selama ini dibanggakan oleh para pemeluknya terkadang hanya membuat para pemeluknya lupa akan esensi dirinya sendiri,yaitu adalah bahwa mereka adalah masih dan tetap seorang manusia.Dimulai dengan munculnya julukan in-group dan out-group dalam setiap agama yang membuat kerentanan konflik sosial,semakin membuat stigma buruk eksistensi agama dalam kehidupan modern.
Rasanya akan indah jika kelak suatu wilayah di Indonesia ini tercipta masyarakat yang benar-benar menjunjung tinggi kehidupan atas perasaan humanis dan sekularis. Kehidupan dimana nilai-nilai agama di nomer duakan.Sebuah kehidupan dimana seorang muslim akan bergandengan tangan dengan semua manusia tanpa melihat status agama.