Dalam tulisan ini saya akan mencantumkan beberapa
budaya-budaya dan fenomena sosial yang ditimbulkan oleh sosok Tuhan teutama
yang selama ini terjadi lingkungan hidup yang saya alami.Pertama saya akan
mengeluarkan semua hal yang ada di dalam pikiran saya selama saya hidup selama
delapan belas tahun ini,dimulai ketika saya dilahirkan tahun 1996 sampai pada
tahun ini 2015.
Baiklah,saya adalah
anak pertama dari dua bersaudara.Kebetulan saya dilahirkan di keluarga muslim
yang bisa dibilang taat,sejak kecil saya diajarkan berbagai cara hidup atas
dasar perintah Islam.Hampir setiap sore ketika saya mulai memasuki umur lima
tahun selalu mengikuti acara rutin TPA (Tempat Pendidikan Al-Quran).Keingintahuan
saya mengenai hal-hal yang baru sangat kuat sekali.Bahkan saya masih ingat
ketika memasuki sekolah dasar di kelas satu waktu pelajaran pendidikan agama
Islam,dengan penuh keheranan ketiks guru menjelaskan sosok Tuhan saya langsung
bertanya,”Bu,Tuhan itu seperti apa,ada di mana?” sontak guru pun menjelaskan
sosok Tuhan yang berbeda dari ciptaanya,tinggal di atas arsy,katanya.
Memasuki SMP saya
masihlah seorang yang dapat di bilang rajin sembahyang kepada Tuhan,hampir
setiap terdengar suara adzan,saya langsung pergi ke Masjid.Masa-masa SMP adalah
masa dimana saya merasakan bahwa saya begitu spesial karena selalu rajin
beribadah, masa dimana saya menganggap muslim adalah yang terbaik, hanya muslim
yang masuk surga, masa dimana saya mempercayai sosok Tuhan seperti apa yang
selalu di munculkan di dalam otak saya, dengan penuh keyakinan saya selalu
menantikan adzan panggilan untuk shalat.
Lalu masa-masa seperti
itu perlahan mulai kabur seiring saya mulai mengenal berbagai budaya di
dunia,berbagai agama,berbagai pandangan filosofi manusia hebat di
eropa,arab,asia,dan sejarah Tuhan selama kemunculan awal manusia sampai abad
milenium.Masa ini adalah ketika saya mulai memasuki kehidupan SMA di mulai
dengan ketertarikan terhadap komunisme,atheisme,dan filsafat akhirnya
mengantarkan saya pada pandangan bahwa Tuhan itu ada namun tidak dapat
dijangkau manusia.Dimulai dengan pola pikir saya bahwa jika Tuhan seorang
muslim itu adalah yang paling benar maka bagaimana dengan nasib
non-muslim,apakah Tuhan akan dengan mudahnya melemparkan mereka ke dalam
neraka,bagaimana jika non-muslim tersebut secara kebetulan lahir di Bali
beragama Hindu namun memiliki etika moral,seorang humanist,dan bahkan seorang
donatur kemanusiaan yang baik,apakah juga akan dilemparkan ke neraka hanya
karena dia adalah non-muslim.
Dijelaskan Tuhan dalam
versi Islam dan Samawi adalah Maha atas Segalanya,bahkan dikatakan bahwa Tuhan
telah menuliskan takdir yang manusia jauh hari sebelum manusia memiliki
ruh.Lalu jika benar bahwa Tuhan telah menuliskan semua takdir manusia jadi
bukanlah kesalahan manusia jika kelak manusia tidak mengenal Tuhanya dan secara
kebetulan terlahir sebagai non-muslim.
Agama yang selama ini
dibanggakan oleh para pemeluknya terkadang hanya membuat para pemeluknya lupa
akan esensi dirinya sendiri,yaitu adalah bahwa mereka adalah masih dan tetap
seorang manusia.Dimulai dengan
munculnya julukan in-group dan out-group dalam setiap agama yang membuat
kerentanan konflik sosial,semakin membuat stigma buruk eksistensi agama dalam
kehidupan modern.
Rasanya akan indah jika
kelak suatu wilayah di Indonesia ini tercipta masyarakat yang benar-benar
menjunjung tinggi kehidupan atas perasaan humanis dan sekularis. Kehidupan
dimana nilai-nilai agama di nomer duakan.Sebuah kehidupan dimana seorang muslim
akan bergandengan tangan dengan semua manusia tanpa melihat status agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar