Sudah
semenjak awal 1920-an Republik Indonesia dilahirkan dalam kumpulan paper,bukan
Soekarno,Hatta,Wahidin,maupun Subardjo yang melahirkannya,namun dia adalah Tan
Malaka.Seorang Indonesian yang pintarnya jauh melampaui para pejuang lainnya.Benar
sekali melalui sebuah tulisan dengan judul “Naar de Republik Indonesia” (Menuju
Republik Indonesia) Tan Malaka sudah mempunyai gambaran sebuah negara merdeka
yang kelak akan bernama Republik Indonesia,jauh hari sebelum Soekarno memulai
tulisannya mengenai Indonesia.
Kita
tidak akan mendapati nama Tan Malaka di dalam buku-bubu pelajaran sejarah di
sekolah dari tingkat dasar sampai lanjutan atas,bisa jadi itu adalah sebuah
konspirasi era Orde Baru dalam propagandanya terhadap Komunisme dan
Sosialisme.Sungguh disayangkan buku-buku Sejarah Indonesia sangat minim dengan
tulisan tokoh-tokoh revolusioner seperti Tan Malaka,Chairil Saleh,dan tokoh
kiri lainnya.
Tan
Malaka yang merupakan pemimpin PKI gelombang pertama adalah seseorang yang
sungguh cerdas,taktis,praktis,teoritis,dan berbagai pujian brilian
untuknya.Karya-karya Tan saya kira jauh melampaui karya-karya Soekarno,jika
soekarno melahirkan Nasakom maka Tan Malaka dengan otak yang di anugerhakan
kepadanya dia menulis sebuah buku pedoman bagi para pemuda penerusnya yaitu
adalah MaDiLog sebuah kata yang dihasilkan dari kata
“matter-dialektika-logika”.Sebuah buku yang bisa saya sebut karya dari perpaduan
Marxisme dan budaya asli Indonesia,dapat dibandingkan dengan “Mein Kampf”-nya
Adolf Hitler.Sebuah kabar gembira bahwa akhir-akhir ini buku-buku
marxist,sosialis,dan karya Tan Malaka sudah mulai terlihat kembali di Toko Buku
Gramedia,setelah sempat sebelumnya menghilang karena kerasnya Orde Baru.
Belajar
dari buku-buku yang menyelipkan nama Tan Malaka dapat membuat setiap orang yang
mengaku bernafas Indonesia menjadi lebih maju,sekalipun buku-buku itu adalah
karyanya ketika Indonesia belum merdeka.Justru buku-buku sebelum Indonesia
merdeka adalah sebuah paper berharga bagi setiap calon pemimpin di masa
ini,tentu mereka akan mengerti apa yang di inginkan para revolusioner untuk
Indonesia.Tidak hanya itu saja para pemimpin belakangan ini sungguh sangat
mengecewakan sekali hasil lima tahunan kepemimpinannya.Pembangunan Ekonomi yang
carut marut,kesenjangan sosial,konflik sosial,tata kota yang hancur,dan korupsi
adalah fakta bahwa para pemimpin itu tidak mengerti apa yang dirancangkan para
revolusiner di belakang sejarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar