Senin, 03 Agustus 2015

Nafas Marxisme di Lapisan Sejarah Indonesia

            Sebuah Ideologi yang beberapa dekade belakang ini tertulis haram di undang-undang,ternyata justru adalah sebuah ideologi yang mempunyai andil besar dalam revolusi kemerdekaan negeri ini.Fakta bahwa para revolusioner Indonesia bernafaskan ide-ide pemikiran dari para filsuf kiri Eropa adalah direksi yang menunjukan betapa besarnya influensi ide-ide tersebut.
            Sudah semenjak awal 1920-an Republik Indonesia dilahirkan dalam kumpulan paper,bukan Soekarno,Hatta,Wahidin,maupun Subardjo yang melahirkannya,namun dia adalah Tan Malaka.Seorang Indonesian yang pintarnya jauh melampaui para pejuang lainnya.Benar sekali melalui sebuah tulisan dengan judul “Naar de Republik Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) Tan Malaka sudah mempunyai gambaran sebuah negara merdeka yang kelak akan bernama Republik Indonesia,jauh hari sebelum Soekarno memulai tulisannya mengenai Indonesia.
            Kita tidak akan mendapati nama Tan Malaka di dalam buku-bubu pelajaran sejarah di sekolah dari tingkat dasar sampai lanjutan atas,bisa jadi itu adalah sebuah konspirasi era Orde Baru dalam propagandanya terhadap Komunisme dan Sosialisme.Sungguh disayangkan buku-buku Sejarah Indonesia sangat minim dengan tulisan tokoh-tokoh revolusioner seperti Tan Malaka,Chairil Saleh,dan tokoh kiri lainnya.
            Tan Malaka yang merupakan pemimpin PKI gelombang pertama adalah seseorang yang sungguh cerdas,taktis,praktis,teoritis,dan berbagai pujian brilian untuknya.Karya-karya Tan saya kira jauh melampaui karya-karya Soekarno,jika soekarno melahirkan Nasakom maka Tan Malaka dengan otak yang di anugerhakan kepadanya dia menulis sebuah buku pedoman bagi para pemuda penerusnya yaitu adalah MaDiLog sebuah kata yang dihasilkan dari kata “matter-dialektika-logika”.Sebuah buku yang bisa saya sebut karya dari perpaduan Marxisme dan budaya asli Indonesia,dapat dibandingkan dengan “Mein Kampf”-nya Adolf Hitler.Sebuah kabar gembira bahwa akhir-akhir ini buku-buku marxist,sosialis,dan karya Tan Malaka sudah mulai terlihat kembali di Toko Buku Gramedia,setelah sempat sebelumnya menghilang karena kerasnya Orde Baru.
            Belajar dari buku-buku yang menyelipkan nama Tan Malaka dapat membuat setiap orang yang mengaku bernafas Indonesia menjadi lebih maju,sekalipun buku-buku itu adalah karyanya ketika Indonesia belum merdeka.Justru buku-buku sebelum Indonesia merdeka adalah sebuah paper berharga bagi setiap calon pemimpin di masa ini,tentu mereka akan mengerti apa yang di inginkan para revolusioner untuk Indonesia.Tidak hanya itu saja para pemimpin belakangan ini sungguh sangat mengecewakan sekali hasil lima tahunan kepemimpinannya.Pembangunan Ekonomi yang carut marut,kesenjangan sosial,konflik sosial,tata kota yang hancur,dan korupsi adalah fakta bahwa para pemimpin itu tidak mengerti apa yang dirancangkan para revolusiner di belakang sejarah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar